Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Apa Sih Takjil Itu?

Apa Sih Takjil Itu? – Siapa sih yang tidak tau pengertian Takjil. Di saat bulan puasa, di tiap sore menjelang waktu berbuka, pasti banyak para pedagang yang menjajakan makanan di pinggir jalan atau orang sering menyebut jajanan tersebut adalah takjil.

Apa itu takjil

Makanan ringan yang di makan saat waktu berbuka telah tiba. Namun Takjil sebenar nya memiliki makna dan pengertian yang kita tidak ketahui. Pembahasan kali ini kita akan membahas, Apa sih takjil itu?

Apa sebenarnya arti dari takjil? Jika merujuk pada kamus bahasa Arab, takjil berasal dari kata ‘ajjala-yu’ajjilu, yang artinya menyegerakan.

Ta’jiilun atau kalau diwaqafkan dibaca takjil yang secara awam merupakan bentuk kata ketiga dari kata kerja ‘ajjala-yu’ajjilu yang berarti penyegeraan. Sehingga Ibnu Hajar Rahimahullah dalam kitabnya Fathul Bari menyediakan satu bab khusus dengan judul “Bab Ta’jil Al Fithr” yang artinya “Bab Menyegerakan Berbuka Puasa.”

Dengan demikian dapat kita tengarai bahwa takjil bukanlah merujuk pada benda atau makanan buka puasa sebagaimana yang selama ini kita fahami. Kata takjil juga sudah termaktub dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang diartikan dengan mempercepat waktu dalam berbuka puasa.

Kata ‘ajjala ini juga terdapat dalam hadis riwayat Al-Bukhari no. 1757 dan Muslim no. 1098 dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, “Laa yazaalu an-naasu bikhairin maa ‘ajjaluu al-fithra”, yang artinya “Terus-menerus manusia berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan buka puasa.”

Selain takjil, dalam masyarakat kita juga sering menggunakan kata ifthar untuk menyatakan kegiatan buka puasa bersama. Sebagaimana halnya takjil, ifthar juga sering dimaknai dengan makanan berbuka, namun tidak sepopuler penggunaan kata takjil. Dalam KBBI juga telah didefinisikan bahwa iftar berarti ‘hal berbuka puasa’.

Dalam Al-Munjid hal 619, afthara diartikan sama dengan akala au syariba, makan atau minum, atau berbuka (Al-Munawwir hal: 1.063). Dalam kutipan hadis di atas, ‘ajjala diikuti dengan kata fithra, ‘ajjalul fithra”, kata fithra dalam hadist tersebut sama dengan ifthar yang artinya mereka menyegerakan berbuka puasa.

Demikian juga kebiasaan kita sehari-hari saat berbuka puasa selalu membaca doa berbuka “….. Wa’alaa rizqika afthartu”. Yang artinya “… dan dari rizkiMU (Allah) aku berbuka puasa”. Penggunaan kata afthartu disini sudah menjadi kata kerja, yaitu melakukan buka puasa.

Penggunaan istilah ta’jil atau ifthar yang identik dengan makanan bukanlah merupakan suatu hal yang buruk, namun apa salahnya kita mencoba untuk membiasakan yang benar, bukan membenarkan yang biasa, sebab membiasakan yang benar secara psikologis akan mempengaruhi sikap kita untuk tetap berupaya melihat dan meletakkan sesuatu pada tempatnya.

Demikian sebaliknya, sikap membenarkan yang biasa, berarti kita tidak mencoba untuk bersikap kritis karena kebiasaan-kebiasaan yang kita benarkan belum tentu memiliki landasan dan makna yang tepat seperti yang dimaksudkan.

Ta’jil bukanlah sejenis makanan kolak dan boh rom-rom, atau ie teube dan timon bruek tetapi kata untuk menganjurkan agar mempercepat berbuka puasa saat waktunya tiba, jangan menunda-nunda. Semoga Ramadhan kali ini kita semua dikaruniai oleh Allah maghfirah serta jangan lupa bersedekah agar harta kita menjadi berkah

Updated: 26 Maret 2019 — 4:09 pm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Informasi Ilmu Pengetahuan © 2018
error: Content is protected !!