Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Sejarah Kerajaan Demak

Sejarah Kerajaan Demak – Kerajaan Islam ini pertama kali didirikan oleh Raden Patah yang memperoleh dukungan dari kelompok para Walisongo tak lama kemunculannya setelah keruntuhan Kerajaan Majapahit yaitu semasa pemerintahan Prabu Brawijaya V / Kertabumi sekitar tahun 1478 M.

Pada jaman dahulu, Demak merupakan Kadipaten di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit dimana sebelum memiliki status Kadipaten, wilayah ini dikenal dengan nama Glagah Wangi yang menjadi salah satu wilayah Kadipaten Jepara dan merupakan satu – satunya Kadipaten yang memeluk ajaran Agama Islam.

Menurut cerita legenda rakyat, daerah pertama kali dibangun oleh Raden Patah di Glagah Wangi adalah lembah yang berasal dari daerah rawa pening. Raden Patah memutuskan untuk bermukim di desa ini saja yang selanjutnya dinamakan Bintoro Demak. Dalam perkembangan selanjutnya Bintoro Demak akhirnya menjadi ibukota negara.

Letak Lokasi Kerajaan Demak

Masjid Demak dikenal sejak jaman dahulu kala sebagai simbol keberadaan dari Kerajaan Demak dimana pendirian Masjid Demak dilakukan bersama – sama para Walisongo. Hal ini juga berhubungan dengan letak kediaman dari Raden Patah bukan seperti sebuah istana megah pada umumnya didirikan oleh beberapa kerajaan di luar negeri, namun cenderung berupa sebuah rumah biasa yang diperkirakan lokasinya berada di sekitar Stasiun Kereta API saat ini yang diberi nama Rowobatok.

Secara garis besar letak Masjid Demak tak jauh dari rumah keluarga raja yaitu sekitar Lembaga Pemasyarakatan saat ini di sebelah timur alun – alun. Alasan didirikan di tempat ini adalah karena keberadaan zaman kolonial yang secara sengaja menghilangkan unsur bekas keraton. Pendapat ini berdasarkan atas hubungan terhadap nama – nama perkampungan di sekitarnya yang memiliki latar belakang sejarah serupa seperti Sitihingkil / Setinggil, Betengan, Pungkuran, Sampangan dan Jogoloyo.

Lokasi keraton berhadap – hadapan dengan Masjid Agung Demak diseberang sungai dengan ditandai oleh beberapa Pohon Pinang dimana hingga saat ini keberadaan Pohon Pinang tetap dilestarikan juga ditanam di sekitar kompleks makam keluarga kerajaan.

Raja – Raja Kerajaan Demak

  • Kerajaan Islam Demak pada masa pemerintahan Raden Patah (1500 s/d 1518).

Berhasil mendirikan Kerajaan Demak dan beliau diberikan gelar kehormatan dengan nama Pangeran Jimbun, setelah suskes menjadi pendiri Kerajaan Demak, raja dengan nama lain adalah Sultan Alam Akbar al Fatah ini selanjutnya membangun kerajaan ini hingga menjadi sebuah kerajaan besar sebagai pusat penyebaran Agama Islam yang terfokus pada pemerintahan Raden Fatah dengan membangun sebuah Masjid Agung Demak berlokasi di tengah – tengah kota alun – alun Demak.

Pada tahun 1513, Raden Patah memutuskan untuk mengirim putranya bernama Pati Unus dan pasukan armadanya guna menyerang Portugis di wilayah Malaka. Namun serangan ini gagal meskipun sudah mendapatkan bantuan dari Kerajaan Aceh dan Palembang karena faktor persenjataan yang kurang memadai.

  • Kerajaan Islam Demak pada masa pemerintahan Pati Unus (1518 s/d 1521).

Pada tahun 1518, Raden Patah wafat dimana selanjutnya pemerintahan Kerajaan Demak digantikan oleh putranya bernama Pati Unus. Pangeran Pati Unus terkenal sebagai salah satu panglima perang yang handal dimana di bawah kepemimpinannya berhasil melawan pasukan Portugis yang telah berhasil menguasai Malaka. Karena keberaniannya tersebut maka Pati Unus diberi julukan Pangeran Sabrang Lor.

  • Kerajaan Islam Demak pada masa – masa pemerintahan Sultan Trenggono (1521 s/d 1546).

Saat Pangeran Pati Unus wafat, beliau tidak mempunyai keturunan, maka tahta kerajaan digantikan oleh adiknya bernama Raden Trenggono, di bawah kepemimpinan Raden Trenggono inilah pemerintahan Demak mencapai titik kejayaan yang berhasil memperlebar daerah kekuasaannya meliputi Jawa Timur dan Jawa Barat.

Sekitar awal tahun 1522, Sultan Trenggono mempersiapkan dan mengirim tentaranya ke wilayah Sunda Kelapa di bawah kepemimpinan Fatahillah guna mengusir Bangsa Portugis dari wilayah ini. Tahun 1527, Fatahillah berhasil mengusir pasukan Portugis dari Sunda Kelapa. Setelahnya Sunda Kelapa diganti nama menjadi Jayakarta yang mengandung makna kemenangan dan saat ini terkenal dengan nama Jakarta.

Peninggalan Kerajaan Demak

Ditemukan beberapa bangunan dan benda – benda peninggalan Kerajaan Demak yaitu sebagai berikut tersebut di bawah ini :

Masjid Agung Demak

Ini adalah salah satu peninggalan Kerajaan Demak terbesar dan paling terkenal. Didirikan oleh Walisongo sekitar tahun 1479, hingga saat ini masih berdiri kokoh dengan bantuan renovasi pada beberapa bagian. Masjid Agung Demak merupakan salah satu bukti bahwa Kerajaan Demak di masa lampau pernah difungsikan sebagai pusat pengajaran dan penyebaran Agama Islam di Pulau Jawa, lokasinya di Desa Kauman, Demak Jawa Tengah.

Pintu Bledek

Bledek dalam Bahasa Indonesia diartikan petir, Pintu Bledek artinya adalah pintu petir. Diciptakan pertama kali oleh Ki Ageng Selo sekitar tahun 1466 yang berfungsi sebagai pintu utama dari bangunan Masjid Agung Demak. Sekarang Pintu Bledek sudah dimuseumkan karena dalam kondisi lapuk dan berusia sangat tua. Benda ini menjadi salah satu koleksi peninggalan Kerajaan Demak yang saat ini disimpan dalam Masjid Agung Demak.

Soko Tatal Dan Soko Guru

Yang dimaksud dengan Soko Guru adalah tiang dengan diameter mencapai ketinggian sekitar 1 meter yang mempunyai fungsi sebagai media penyangga kekokohan dari bangunan Masjid Demak. Terdapat 4 buah Soko Guru di dalam Masjid ini dimana berdasarkan cerita legenda / mitos, masing – masing Soko Guru dipersiapkan dan dibuat oleh Kanjeng Sunan Kalijaga sesempurna yang dia mampu. Sang Sunan diberikan tugas untuk mempersiapkan dan membuat tiang Masjid sendiri, namun ia baru dapat menyelesaikan 3 buah tiang, sisanya beliau sambung secara ‘tatal’ atau terbuat dari potongan – potongan sisa kayu pembuatan 3 Soko Guru sebelumnya, maka jadilah Soko Guru yang terbuat dari tatal yang cukup kokoh.

Bedug Dan Kentongan

Yang dimaksud dengan Bedug dan Kentongan yang tersimpan di dalam Masjid Agung Demak adalah salah satu peninggalan dari Kerajaan Demak yang bernilai sejarah cukup tinggi dimana kedua alat ini sangat bermanfaat pada masa silam sebagai salah satu alat guna memanggil warga sekitar Masjid agar segera datang untuk berkumpul melakukan Sholat 5 waktu setelah Adzan dikumandangkan. Kentongan memiliki bentuk menyerupai Tapal Kuda mempunyai filosofi sebagai berikut apabila Kentongan tersebut dipukul maka warga sekitar wajib segera berkumpul guna melakukan ibadah Sholat 5 waktu.

Situs Kolam Wudhu

Bagian ini dibangun seiring dengan berdirinya bangunan Masjid Demak. Situs Kolam Wudhu pada jaman dahulu berguna sebagai salah satu tempat untuk berwudhu bagi para Santri atau Musyafir yang sedang berkunjung ke dalam area Masjid guna melakukan sholat. Sekarang ini situs ini sudah tak begitu berfungsi untuk berwudhu karena berusia sangat tua sehingga hanya bisa dilihat saja sebagai salah satu benda peninggalan bersejarah.

Maksurah

Adalah dinding yang berukir Kaligrafi bertuliskan Arab yang saat ini menghiasi bangunan Masjid Demak. Maksurah dibuat sekitar tahun 1866 M yaitu ketika Aryo Purbaningrat menjabat sebagai seorang Adipati Demak. Tulisan Kaligrafi yang dimaksud bermakna tentang keesaan dari kuasa Allah.

Dampar Kencana

Yang dimaksud dengan Dampar Kencana adalah sebuah singgasana dari para Sultan yang selanjutnya dialih fungsikan sebagai media / mimbar khutbah pada Masjid Agung Demak. Merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Demak yang hingga saat ini masih terawat dengan rapi pada salah satu tempat penyimpanan di Masjid Demak.

Piring Campa

Yang dimaksud dengan Piring Campa adalah benda antik berupa piring pemberian dari seorang putri dari Kerajaan Campa adalah ibunda dari Raden Patah. Piring – piring ini memiliki jumlah sekitar 65 buah dimana sebagian dipasang sebagai fungsi hiasan pada dinding Masjid dan sisanya dipasang pada tempat imam.

Kehidupan Ekonomi Dan Sosial Budaya

Rakyat Kerajaan Demak memiliki kehidupan ekonomi yang cukup baik karena dipengaruhi oleh lokasi atau wilayah yang sangat strategis yaitu berada pada jalur kegiatan perdagangan Nusantara yang memungkinkan Demak maju menjadi salah satu kerajaan maritim. Kegiatan perdagangan yang dilakukan memposisikan Demak untuk berperan aktif sebagai penghubung antar daerah yang menghasilkan rempah – rempah dalam wilayah Indonesia bagian timur dan barat.

Kesimpulan

Seperti dijelaskan di atas bahwa Kerajaan Demak berdiri sekitar tahun 1500 oleh raja pertama bernama Raden Fatah yang diberi gelar Sultan Alam Akbar Al – Fatah. Pada masa – masa ini Kerajaan Demak mengalami perkembangan yang cukup pesat terutama karena mempunyai daerah pertanian yang sangat luas sebagai salah satu sumber penghasilan bahan baku makanan utama rakyat Demak adalah beras. Juga, kemajuan – kemajuan yang dialami Demak banyak dipengaruhi oleh jatuhnya Malaka ke tangan Portugis. Selain tumbuh sebagai salah satu pusat perdagangan juga Demak menjadi pusat penyebaran Agama Islam. Para wali merupakan penyebar utama ajaran Agama Islam di Demak yang lebih fokus untuk menyebarkan Islam kepada penduduk Tanah Jawa.

Pada tahun 1546 Sultan Trenggana wafat dan menyebabkan Kerajaan Demak mengalami kemunduran. Selanjutnya terjadi konflik berupa perebutan kekuasaan antara Pangeran Prawato adalah putra dari Sultan Trenggana dengan Aria Panangsang merupakan keturunan dari Sekar Sedo Lepen adalah adik dari Sultan Trenggana. Konflik ini memicu terjadinya perang guna memperebutkan kekuasaan kerajaan dimana Aria Panangsang kalah dan terbunuh oleh Pangeran Prawoto dan putranya Pangeran Hadiri.

Adalah Ratu Kalinyamat dan Aria Pangiri meminta bantuan kepada Adiwijaya di Pajang dimana dalam pertempuran maha dahsyat tersebut, pangeran dan putranya dengan dibantu Adiwijaya berhasil membunuh Aria Panangsang dan untuk selanjutnya Adiwijaya memindahkan ibukota Kerajaan Demak ke Pajang sekitar tahun 1568. Inilah merupakan akhir dari Kerajaan Demak.

Demikian kami mengulas artikel dengan judul sejarah Kerajaan Demak, semoga dapat menambah wawasan dan bermanfaat bagi para pembaca.

Updated: 4 Februari 2019 — 1:59 pm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Informasi Ilmu Pengetahuan © 2018
error: Content is protected !!