Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Sejarah Perumusan Teks Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia

Sejarah Perumusan Teks Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia – Sebuah rumah mungil nan asri berlokasi di Jalan Raya Meiji Dori / sekarang adalah Jalan Raya Imam Bonjol Nomor 1, Jakarta Pusat, dapat dijadikan sebagai bukti nyata dan saksi sejarah perjuangan Bangsa Indonesia di dalam mencapai kemerdekaan.

Rumah ini adalah milik Perwira Tinggi Angkatan Laut Jepang di Indonesia yaitu Laksamana Tadashi Maeda yang dipinjam sementara waktu guna merumuskan naskah teks proklamasi pada waktu dini hari tanggal 17 Agustus 1945.

Menurut sebuah buku yang berjudul “ Kilas Balik Revolusi “ karya Abu Bakar Loebis menjelaskan bahwa tokoh dari kelompok muda bernama Achmad Soebardjo menjemput Soekarno – Hatta dari daerah Rengasdengklok setelah berhasil meyakinkan teman – temannya untuk dengan segera membawa kedua pemimpin Negara Indonesia tersebut ke Kota Jakarta.

Mereka tiba dengan selamat di rumah Laksamana Maeda untuk selanjutnya mengadakan rapat singkat guna merumuskan naskah proklamasi kemerdekaan Negara Indonesia.

Pilihan rapat diadakan di rumah Laksamana Maeda adalah karena rumah yang bersangkutan memiliki ‘hak imunitas’ terhadap Angkatan Darat Jepang sehingga diharapkan kedua pemimpin ini tetap dalam keadaan aman.

Rapat dadakan digelar di ruang makan keluarga Laksamana Maeda untuk merumuskan naskah proklamasi kemerdekaan Negara Indonesia yang merupakan hasil pemikiran dari tiga tokoh politik besar masyarakat di Indonesia pada waktu itu adalah Soekarno – Hatta dan Achmad Soebardjo dilakukan secara lisan dan sangat cepat, Soekarno adalah bertindak sebagai penulis terhadap konsep teks proklamasi kemerdekaan Negara Indonesia tersebut.

Meskipun bersifat dadakan, proses penyusunan naskah ini dapat disaksikan oleh golongan muda di bawah kepemimpinan Sukarni, Sudiro, dan BM. Diah. Sedangkan dari pihak Jepang dihadiri oleh S. Miyoshi dan S. Nishijima. Sekelompok dari golongan pemuda yang berjaga – jaga di luar rumah mengusulkan agar teks proklamasi dibuat dalam bentuk tekanan / bernada keras ! Namun oleh S. Nishijima tidak mengizinkan hal tersebut dilakukan agar keadaan di sekitar rumah tetap dalam kondisi aman sehingga tidak bisa memicu amarah dari tentara Jepang yang sedang patroli di jalan – jalan raya besar sekitar rumah bersangkutan.

Yang terpenting dilakukan oleh Soekarno saat itu adalah memperhatikan beberapa kata yang diminta untuk ditulis di dalam naskah teks proklamasi kemerdekaan adalah “ penyerahan “, “ dikasihkan “, “ diserahkan “, atau “ merebut “. Akhirnya pilihan dijatuhkan kepada rangkaian kata – kata sebagai berikut : “ pemindahan kekuasaan “ yang dinilai tegas tetapi terdengar lebih halus.

Saat konsep naskah teks sudah selesai, Soekarno menyarankan untuk mengundang semua penghuni rumah agar hadir di ruang rapat untuk turut serta menyaksikan perumusan naskah proklamasi yang sudah selesai akan ditandatangani oleh Soekarno – Hatta sebagai wakil bangsa dan rakyat Indonesia.

Updated: 21 April 2019 — 4:49 am

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Informasi Ilmu Pengetahuan © 2018
error: Content is protected !!